RSS

Sederhana Namun Penuh Makna

Sederhana Namun Penuh Makna

 

Masih ingat masa-masa SD anda? Kapan terakhir anda bermain ke SD tempat anda menuntut ilmu di waktu kecil? Kapan terakhir anda melihat senyuman ramah para guru SD yang menyambut anda dikala pagi menyapa? Kapan terakhir anda bermain permainan tradisional seperti galasin di halaman SD anda?

Mungkin dari anda semua hanya beberapa yang masih kerap hadir melepas rindu di SD tempat anda baru mulai mengenal penjumlahan angka-angka sederhana, ikut berbaris di depan kelas sebelum masuk dan berdiri rapi ditengah lapangan saat senin pagi untuk ikut dalam upacara bendera. Sebuah masa dimana pakaian merah putih itu selalu menghiasi hari-hari kita mempelajari konsep hidup yang sangat sederhana.

Di sebuah sekolah di Depok dalam ruangan kelas, seorang anak menghampiri salah satu relawan sambil membisikan panggilan “papah”. Anak tersebut minta untuk digendong dari belakang oleh relawan tersebut. Panggilan “papah” itu sempat mengagetkan sang relawan. Dia bingung mengapa anak ini begitu manja padanya. Namun relawan tersebut akhirnya diberitahu oleh salah seorang guru bahwa anak tersebut adalah anak yatim piatu. Manjanya dan dekapan anak tersebut memang terasa berbeda di hati relawan tersebut. Bayangkan saja jika ada seorang anak yang menghampiri kita seperti itu dan kita tau latar belakang dia. Rasanya ingin didekap lebih lama, ingin rasanya selalu menghadirkan tawa di sela waktu bermainnya di sekolah, ingin rasanya mengantar dan menjemput dia dari sekolah agar dia tak merasakan kesepian yang mungkin akan terus menemani hari-harinya.

Di kelas lainnya terlihat seorang relawan wanita yang sedang berjuang untuk meyakinkan anak-anak di kelas tersebut untuk mengikuti apa yang relawan tersebut minta. Wajah tegang tak bisa dihilangkan dari raut wajahnya. Dia pun sudah berteriak-teriak untuk meminta perhatian anak-anak namun masih sulit untuk mendapatkan perhatian mereka. Ternyata relawan ini sebelumnya tidak ikut dalam briefing kelas inspirasi dimana telah dibagi beberapa tips untuk manajemen kelas. Saat itu dia tidak bisa hadir karena pekerjaanya juga masih menumpuk sehingga dia tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan materi pelajaran seperti para relawan lainnya. Mungkin bagi beberapa orang, mereka akan lebih memilih mundur karena persiapanya tidak matang daripada nantinya mengecewakan anak-anak tersebut. Namun tidak baginya, relawan ini tetap terus berjuang datang di hari kelas inspirasi tersebut untuk berbagi cita-cita kepada anak-anak di kelas itu. Tak ada kata mundur di hatinya karena dia yakin dia bisa melaluinya. Mentalnya yang telah ditempa selama menjadi Event Organizer kini coba ditantang dihadapan puluhan anak-anak di kelas itu. Namun dengan bangga akhirnya dia bisa berhasil melewati hari tersebut dengan senyuman. Semoga juga tidak ada anak-anak yang menangis ditinggalkanya. Hanya rasa rindu yang pasti hadir di hati anak-anak di kelas itu terhadap sosok relawan ini.

Sesaat berusaha untuk meninggalkan keceriaan di kelas-kelas tersebut untuk beranjak ke lapangan melihat beberapa anak-anak sedang bermain permainan bentengan bersama teman-temannya. Entah berapa tahun yang lalu masih bisa ku ikut dalam permainan ini. Berlari mengejar teman sebaya keliling lapangan dan disusul teman lainnya di belakangku demi menangkap lawan dan mengalahkannya. Keringatpun pasti penuh membasahi baju putih yang dipakai. Setelah bermain di siang hari yang terik itu akhirnya masuk ke kelas dengan ditemani sebuah buku yang menjadi kipas tuk mengusir panas di tubuh kecil ini. Masa anak-anak itu masih terbayang hingga kini ketika melihat keceriaan yang sama di lapangan kecil tempat para relawan kelas inspirasi depok ini mengajar.

Ku beranjak kembali masuk ke ruangan kelas untuk melihat keceriaan anak-anak di SDN Beji 6 Depok. Kini ku melihat sesosok wajah relawan dengan rambut klimisnya dan kacamata tebal warna hitam. Posturnya yang tinggi besar membuatnya jelas jauh terlihat lebih tinggi dari anak-anak di kelas tersebut. Relawan tersebut sedang bermain dengan rumah-rumahan yang dia bawa sebagai sarana baginya untuk menjelaskan tentang profesinya sebagai arsitek. Tawa kecilnya selalu menghiasi kelas tersebut saat dia sedang menjelaskan tentang profesinya kepada anak-anak. Ketika relawan tersebut meminta beberapa anak untuk melakukan pengukuran yang mungkin sulit untuk anak-anak seumur itu, wajahnya terlihat sangat bangga. Hal itupun selalu diucapkannya ketika bertemu oleh para guru dan para relawan lainnya. Dia sangat senang karena anak-anak tersebut sudah mengerti cara pengukuran yang mungkin sulit. Dia bangga saat dia berhasil membuat anak-anak tersebut tetap nyaman bersamanya untuk berbagi tentang cita-citanya. Padahal beberapa hari sebelumnya, relawan ini terlihat cukup panik karena masih bingung bagaimana cara mengajar anak-anak di kelas kecil. Ada ketakutan tersendiri jika sampai dia tidak berhasil meyakinkan anak-anak ini untuk tetap mendengarkan dia mengajar. Kekhawatiran itu pun tak pernah menjadi nyata karena ketulusan yang relawan tersebut sampaikan ke anak-anak ini. Bangga ya rasanya menjadi guru walau hanya sehari.

Warna yang hadir di hari itu bukan hanya dari keceriaan anak-anak namun juga dari pernak-pernik yang dibawa para relawan. Topi dari kertas ditemani sebuah notes berwana yang berisikan cita-cita masing-masing anak menjadi hiasan wajib di masing-masing kelas. Beberapa anak memakai kalung yang dihiasi oleh bintang sebagai tanda unik yang menghiasi keceriaan mereka. Di satu masa ku hampiri sebuah kelas dimana terlihat seorang ibu yang berwajah kalem dengan krudung warna abu-abu dan kalung name tag panitia berwarna orange. Relawan tersebut mengaku mengaku suaranya sudah mulai memudar karena kalah frekuensi dengan anak-anak di kelas tersebut. Namun dengan suara yang terbatas itupun dia tetap melanjutkan mengajarnya tanpa terpikir untuk berhenti dan keluar dari ruang itu.

Semangat ini mungkin tidak kita temukan ketika berada di ruang kerja yang dipenuhi oleh deadline dari para pemimpin perusahaan tempat kita bekerja. Biasanya hanya keluhan yang keluar dari mulut kita dibandingkan rasa syukur karena masih diberikan kesehatan dan bahkan pekerjaan hingga saat ini. Kita lupa bersyukur dengan adanya semua deadline itu kita masih bisa memberi makan anak-anak kita, memberi uang belanja istri kita dan bahkan dengan uang dari hasil kerja kita itu bisa digunakan untuk menyiapkan pernak-pernik untuk bahan ajar di kelas inspirasi depok pada tanggal 18 juni itu. Dengan semua yang kita miliki itu dapat menghadirkan senyum tawa anak-anak yang selalu meminta kita untuk kembali lagi sekedar menengok mereka. Kesederhanaan yang kadang sering kita lupakan dalam segala kesulitan hidup kita.

Mungkin kegiatan yang dilakukan para relawan ini cukup sederhana namun ternyata ini juga menguras tenaga dan pikiran mereka di hari-hari sebelum acara. Bahkan beberapa relawan pun berharap segera datangnya “selasa sore” yang menandakan selesainya acara tersebut karena ketegangan yang mereka rasakan.  Di grup chat yang dibuat oleh para relawan ini berisi foto-foto pernak-pernik yang disiapkan oleh masing-masing relawan. Pohon cita-cita, kalung bintang, slempang bak putri Indonesia, topi cita-cita, bintang warna warni dan berbagai peralatan lainnya. Lihatlah betapa senangnya mereka menyiapkan semua peralatan itu. Ingin rasanya mereka membahagiakan anak-anak itu dalam sehari kedatangan mereka. Tak berharap ada tangis anak yang turut menemani di hari yang penuh makna itu. Walaupun pada kenyataanya ketegangan masih tetap ada di wajah mereka namun itu mereka tutupi dengan senyuman.

Hari itu adalah hari dimana aku bisa melihat wajah tegang bercampur senang dari para relawan kelas inspirasi. Ada relawan yang turut membawa anak mereka untuk ikut menemaninya saat mengajar. Mungkin baginya ini adalah sebuah semangat tambahan ketika harus menghadapi puluhan anak-anak di kelas tersebut. Selain harus menangani anak-anak murid itu dia juga harus menangani anaknya sendiri. Entah kenapa aku terharu dan bangga melihat relawan ini, dibalik segala kesibukannya dia juga turut membawa anaknya. Walaupun sebenarnya anaknya memang sedang libur sekolah tapi hal ini membuat sebuah perbedaan kecil.

Melihat para relawan kelas inspirasi depok yang hadir di SD Beji 6 ini membuat aku semakin yakin bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang peduli akan pendidikan. Mereka pun pasti sudah berhenti mengutuk segala kekurangan pendidikan di Indonesia. Karena secara langsung mereka turut berpartisipasi mengurangi sekat-sekat pemisah anak-anak Indonesia dengan kemajuan bangsanya. Mereka semakin mendekatkan anak-anak ke impiannya ketika di akhir acara di tengah teriknya panas itu, para relawan beserta para guru dan murid-murid melepas balon cita-cita ke langit biru. Terbanglah tinggi wahai cita-cita anak-anak Indonesia. Hari itu langit biru di Depok menjadi saksi ribuan mimpi anak-anak di setiap SD yang melaksanakan kelas inspirasi. Terima kasih wahai para relawan yang telah menjadikan hari-hari anak-anak di SD Beji 6 Depok semakin berwarna. Bagiku mengajar itu membuatku ketagihan, ketagihan untuk terus belajar, ketagihan untuk terus memandang foto-foto acara hari itu, ketagihan untuk menanti kunjungan kedua-ketiga-keempat dan seterusnya di SD Beji 6 Depok, ketagihan untuk kembali menyiapkan materi belajar bersama keluarga baru di kelompok 3, ketagihan untuk kembali dipanggil bapak-ibu guru oleh anak-anak ini dan ketagihan untuk sekali lagi diberikan kehormatan untuk hadir di hadapan anak-anak hebat ini. Sebuah kehormatan untuk bisa jadi salah satu saksi kehebatan para penerus bangsa Indonesia. Sehari ku mengajar seumur hidupku belajar.

Dedicated for : Ida Bagus Charma, Alya Fatima, Anindita Diah Kusumawardhani, Citra Sari Deasy Amrin, Dewi, Denok Marty Astuti, Laras Grahiningtyas, Leo Baringin, Muamar Sholihin Syaidar, Rendy, Rindu, Vendy Antono, Wresniwara (Relawan Kelompok 3 Kelas Inspirasi Depok, 18 Juni 2013)

 Lihat KamiBersama Bermain

 
3 Comments

Posted by on June 25, 2013 in Uncategorized

 

Hujan Penuh Berkah

Malam ini adalah malam dimana aku mendapatkan sebuah pengalaman luar biasa yang tak bisa aku temui bahkan mungkin aku lakukan jika aku masih di jakarta. Mengubah kebiasaan suatu masyarakat memang tidak mudah dan itu ak rasakan saat aku pertama kali berada di tanjung aru. Di daerah ini terdapat sebuah bangunan kecil berukuran sekitar 7×3 meter berwarna hijau putih dengan konsep rumah panggung sederhana berdiri di belakang mesjid. Bangunan ini adalah tempat anak-anak menimba ilmu agama lebih dalam lagi bersama seorang guru bernama bapak Gafar. Bangunan ini merupakan hasil kerja dari Program PNPM di tanjung aru. Bangunan ini adalah sebuah TK-TPA, sebuah tempat awal bagiku dan temanku untuk mulai melakukan perubahan kecil kepada anak-anak.

 

Beberapa hari yang lalu aku mengajukan sebuah pertanyaan kepada anak-anak di kelas 6B tempatku mengajar, tepatnya sebelum pelajaran agama. “Anak-anak, siapa yang tahu bacaan sholat?”, tanyaku pada anak-anak. Mereka terdiam sejenak sambil melirik kanan-kiri mereka dan kemudian menjawab bersama-sama bahwa mereka tidak tahu bacaan sholat. Kemudian aku lanjutkan pertanyaanku, “Jadi kalian kalau sholat baca apa?”. Mereka kemudian menjawab lagi dengan sedikit pelan suaranya, “Ya ikutin imam aja pak, kami tidak tahu bacaanya sama sekali. Bisa seh tapi cuma doa setelah wudhu dan niat sholat”. Aku sempat terdiam dan berpikir sejenak, untuk apa aku melanjutkan materi agama kelas 6 ini yang akan membahas tentang kisah Abu Lahab dan Abu Jahal tapi ternyata untuk kegiatan sehari-hari saja mereka masih tidak mengerti. Aku kemudian memutuskan untuk mulai mengajak mereka mengaji lagi di mushola dan mesjid dekat daerah sini agar kelak mereka bisa mengerti tentang agama. Namun dengan sedikit menggunakan strategi memaksa aku kemudian mengatakan kepada mereka bahwa untuk ujian agama nilai soal yang teori hanya berbobot 20 % sedangkan yang 80 % diutamakan pada praktek agama. Walaupun sedikit memaksa aku berharap mereka mengerti tentang apa pentingnya agama bagi hidup mereka kelak. Mungkin mereka tidak pernah terpikir untuk rajin sholat atau mengaji setiap hari karena sebenarnya kondisi lingkungan mereka tidak mendukung. Orang tua mereka tidak peduli apakah mereka bisa sholat atau mengaji bahkan orang tua mereka pun sebagian tidak pernah mengajak anak-anaknya ke mesjid untuk sholat bareng karena mereka baru pulang dari mencari ikan di laut sekitar pukul 8 malam. Jadi ini sulit pula jika aku harus menyalahkan lingkungan mereka atau orang tua mereka yang kemudian menghambat mereka untuk mengerti tentang agama.

 

Aku dan temanku membagi tugas secara bersama, dimana dia mengajar mengaji di mesjid dekat hulu dan aku mengajar mengaji di musholla dekat hilir. Hal ini kami lakukan karena rumah anak-anak tidak semuanya dekat satu sama lain. Untuk mengakomodasi ini kamipun bekerja sama dengan warga pengurus mesjid sekitar demi  membantuk kami mengajar. Pada awalnya yang datang untuk mengaji hanyalah sekitar 5 orang. Kami tetap bersemangat dan terus mengingatkan anak-anak untuk datang ke mesjid dan mushola saat selesai magrib hingga isya untuk mengaji bersama dan belajar tentang agama. Selain mengaji di mushola dan mesjid kami mengajak mereka untuk belajar bacaan sholat dan doa sehari-hari di TK-TPA setiap sore jam setengah 3.

 

Hari itu mungkin terasa sangat berbeda bagiku. Sebelumnya aku sempat ditegur oleh salah seorang anak kelas 5 SD yang berkata,”Pak, kenapa kemarin pas ngaji nda dateng seh di mushola, kan anak-anak yang datang banyak?”, kemudian aku menjawabnya sambil meminta maaf dan mengatakan bahwa aku tidak bisa datang karena sedang mendapatkan undangan untuk acara doa bersama karena ada yang baru saja meninggal di sekitar rumah kami. Memang ketika aku dirumah orang yang sedang berduka itu, aku mendengar dari kejauhan suara-suara khas yang biasa aku dengar ketika sedang bersama anak-anak itu di mushola. Suara merdu nan indah yang keluar dari speaker mushola menunjukan bahwa anak-anak disini memiliki bakat yang terpendam dalam hal membaca Al-Quran. Aku berpikir bahwa mereka tetap mengaji walau tanpa kehadiranku. Aku pun semakin penasaran untuk segera menjelang magrib esok hari karena aku ingin bertemu anak-anak pintar ini. Di siang harinya aku sempat mengajak temanku yang mengajar di mesjid untuk membawa anak-anak disana untuk bergabung bersama di mushola ketika mengaji nanti.

Saat itupun datang dan aku segera mengambil air wudhu di rumah ibu asuhku karena adzan magrib telah berkumandang dari mushola tempatku menginisiasi pengajian anak-anak. Ketika aku datang ke mushola itu aku sudah melihat pemandangan yang berbeda karena mushola sangat penuh oleh anak-anak. Aku sempat bingung, apakah karena ada acara atau memang mereka hanya ingin sholat. Namun aku melihat tumpukan Al-Quran yang diletakan bersandar pada salah satu pilar mushola ada banyak tidak seperti biasa. Al-Quran itu semua masih bagus dan pertanda ini bukan Al-Quran dari mushola karena Al-Quran di tempat ini sebagian sudah rusak dan sobek hingga kadang ada halaman yang tidak ada. Setelah aku selesai sholat magrib aku melaksanakan sholat sunah terlebih dahulu sebelum kemudian bersiap-siap mengaji bersama. Ketika aku selesai sholat sunnah kemudian aku mengambil Al-Quran kecil yang aku bawa dari rumah, tiba-tiba aku tersentak karena di depanku telah berkumpul anak-anak yang sangat banyak. Aku mencoba menghitung mereka satu per satu walau aku harus terus mengulang hitungan itu karena mereka senang sekali lari-lari dari satu tempat ke tempat lain sehingga hitunganku selalu tidak selesai. Mereka semua ada 40-an orang dan terdiri dari anak-anak kelas 1 sampai 6 bahkan ada yang SMP. Subahanallah aku kagum dan bersyukur ketika melihat mereka semua. Mungkin aku hanya berusaha untuk memberikan mereka semangat untuk mengaji lagi dengan selalu menemani mereka dan mendengarkan mereka bercerita namun mereka memberikan hadiah luar biasa yang tidak pernah aku dapatkan selama disini.

 

“Duduk anak Sholeh !” teriak pak gafar sang guru  ngaji yang turut membantu aku mengubah kebiasaan anak-anak ini. “ Siap, A, Ba, Ta, Sa (sambil duduk bersila tangan kanan diangkat setengah siku, tangan kiri kemudian dan tangan kanan menutup ke depan diikuti tangan kiri yang akhirnya tangan mereka semua telah rapi ada di depan dada mereka)” jawab anak-anak sambil menggerakan tangannya. Mereka semua memulainya dengan membaca doa belajar yang kemudian disambut dengan surat Al-Fatihah secara bersama-sama. Tak lama setelah itu Pak Gafar berbicara dan meminta anak-anak untuk membuka surat yassin di Al-Quran masing-masing. Karena ini malam jumat jadi kita semua membaca surat yasin  namun ini hanya dilakukan oleh Pak Gafar saja sedangkan anak-anak yang lain mendengarkan dan membacanya dalam hati saja. Suara itupun berkumandang melalui speaker mushola dan didengarkan oleh semua masyarakat di hilir. Setelah selesai kemudian anak-anak diminta membuka surat pertama di Al-Quran yaitu Al-Baqarah dan membacanya bersama-sama hingga ayat ke 7. Semua anak-anak mengikuti membaca surat ini sampai selesai. Suasana hatiku sangat teduh ketika anak-anak ini membaca dengan lantang dan semangat. Mereka semua hanyalah anak-anak yang ingin dibimbing untuk menjadi lebih baik namun tidak semua yang ada disini dapat mendukung keinginan sederhana itu. Di pertengahan mengaji temanku juga turut membawa anak-anak yang mengaji di mesjid untuk bergabung bersama. Ketika selesai mengaji kami langsung memulai persiapan untuk sholat isya dan Adzan dilakukan oleh salah seorang anak kelas 6 bernama Rizal. Dia merupakan anak yang sering sekali datang ketika mengaji dari pertama hingga saat ini. Setelah sholat Isya selesai tiba-tiba terdengar suara gemuruh deras dari luar ruangan. Ternyata itu adalah suara hujan gerimis yang semakin deras yang kemudian membuat sebagian anak-anak tidak bisa pulang. Mereka sempat panik dan takut karena tidak bisa pulang. Aku dan temanku sempat bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Kami mencoba mengajak mereka ngobrol sambil bercanda demi untuk mengusir ketakutan mereka karena belum bisa pulang. Namun hingga pukul 8.15 hujan masih belum berhenti dan terus deras. Akhirnya aku memutuskan untuk meminjam salah satu motor anak yang masih terparkir di depan mushola dan langsung menggunakan jas hujan yang ada di jok motornya kemudian pergi ke arah rumah orang tua asuhku. Sesampainya disana aku mengambil 2 jas hujan hasil pembagian IM dan sebuah payung kecil. Aku berpikir untuk mengantar mereka satu-satu hingga ke rumahnya dengan menggunakan motor dan jas hujan. Sesampainya disana sebagian bajuku sudah basah kuyup karena jas hujannya tidak menahan air dari samping. Apalagi ditambah hujan angin yang deras arahnya menghantam wajahku sehingga akupun sulit melihat jalan ke arah mushola sambil menahan sakit di wajah karena hujannya sangat besar. Akupun meminta anak-anak itu untuk menggunakan payung untuk memakai jas hujan namun ketika aku membuka payung ternyata payung itu rusak dan tidak bisa membuka sempurna karena besi-besi kecil penahan payung sudah patah. Akhirnya aku terpaksa melepas jas hujanku untuk kuberikan pada anak-anak. Temanku mengantar mereka dan bergantian denganku hingga sampai ke rumah mereka masing-masing. Tapi untuk perjalanan terakhir aku meminta tidak usah dijemput lagi di mushola karena aku akan berjalan kaki dengan jas hujan menuju ke rumah. Aku ingin menikmati hujan ini. Hujan yang penuh dengan kejutan  dan berkah. Bagi teman-teman mungkin mandi hujan dapat membuat kita sakit tapi saat ini bagiku berhujan-hujanan bersama mereka adalah momen terindah dalam hidupku dimana aku diingatkan untuk terus bersyukur dengan apa yang ada. Aku berharap anak-anak di seluruh Indonesia dapat menggapai impian mereka walau dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Terima Kasih Ya Allah untuk semua apa yang Kau berikan kepadaku dan semua teman-temanku. 

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2012 in Uncategorized

 

Semua Tentang Rizky

“Nama saya Rizky, saya murid pindahan dari Sulawesi.“ ,ujar seorang anak baru di SD 001 Tanjung Harapan yang ada di kelas 6B dimana tempatku mengajar. Kuajak dia memperkenalkan dirinya sendiri di depan kelas. Dengan sedikit malu-malu dan salah tingkah yang ditandai dengan caranya dia yang sering menggaruk-garuk kepalanya, dia mencoba memperkenalkan dirinya di depan anak-anak. Pakaianya sedikit berantakan dengan baju yang dikeluarkan dan gaya rambut berdiri ditambah poni panjang di depanya menjadi ciri khas dirinya. Tak lama setelah memperkenalkan diri kemudian dia langsung kembali ke tempat duduknya di bagian belakang bersama salah seorang anak murid saya yang cukup besar pula badanya. Itulah awal perkenalan saya terhadap seorang anak yang dalam 2 bulan pertama saya disini telah membuat masyarakat sekitar sedikit heboh dengan kisahnya.

 

Selama 2 bulan saya mengajarinya di kelas 6B banyak hal-hal unik yang terjadi dan sempat membuat saya sedikit bingung bagaiamana mengatasi anak ini. Dia adalah salah satu anak yang sangat aktif sekali, di kelas dia tidak bisa diam dan selalu mengganggu temanya. Seringkali dia berkelahi dengan salah seorang anak yang sebelumnya adalah anak pembuat masalah juga di kelas ini. Anak itu yang paling disegani oleh anak-anak lainnya. Setiap dia membuat masalah tidak pernah ada yang berani mengadukanya karena setiap setelah kejadian itu siapapun yang mengadu kepada guru akan langsung dia hajar. Mungkin dia bercita-cita menjadi seorang petinju suatu hari nanti. Namun anak yang disegani ini ternyata takluk dengan rizki. Dia tidak berani melawan rizki dan selalu tunduk atas segala apa yang disuruh oleh Rizki.Hal ini sering saya amati ketika mereka sedang istirahat sambil bermain bola di lapangan sekolah. Keduanya sering terlibat perkelahian kecil dan berakhir dengan tangisan dari anak yang bernama Basir ini. Walaupun hanya gertakan saja namun dia tetap takut dengan Rizki. Berbeda dengan ketika dia berhasil menakut-nakuti anak-anak lainnya di kelas. Ketika Rizki berhasil menaklukan anak ternakal di kelasku maka dia menjadi orang yang paling disegani di kelas dan sekolah.

Selama pelajaran setiap hari pasti Rizki selalu membuat masalah. Entah menggoda anak-anak perempuan hingga mereka nangis, memukul salah satu kepala anak lainnya, melempar temanya dengan buku atau kertas, menjahili teman sebangkunya, selalu menolak perintahku setiap aku minta dia maju untuk menjawab pertanyaan, menjadi provokator ketika ada perkelahian kecil ketika bermain bola saat istirahat, dan masih banyak hal-hal lainnya yang dia lakukan di kelas yang membuat dia sempurna menjadi seorang anak yang wajib aku taklukan dan membuatnya berprestasi. Walaupun sulit tapi aku yakin bisa melakukanya, setidaknya aku bisa berusaha merubah keaktifanya di kelas menjadi lebih positif. Akhirnya aku mulai untuk melakukan pendekatan khusus kepadanya sebelum tingkahnya semakin membuat anak-anak lainnya tidak betah dikelasku. Langkah pertama adalah aku membuat sesi curhat atau sesi sharing setelah pelajaran di kelas selesai. Sebenarnya ini adalah salah satu program yang aku rencanakan untuk dilakukan di semester 2 karena ini adalah salah satu caraku untuk dekat dengan anak-anak di kelasku dan mengatahui kebiasaanya di rumah hingga kondisi keluarga anak-anak di kelasku, namun karena melihat kondisi menuntutku untuk langsung menerapkanya maka aku mencobanya. Aku pun mencoba mendekati rizki seperti aku mendekati teman baruku, aku mencoba memperlakukan dia sebagai teman cerita bukan sebagai murid. Aku menjadikanya salah satu pemain utama dalam tim sepakbola sekolah kemudian aku lebih sering mengajak dia berbicara setelah pulang sekolah sekaligus bercanda. Aku mencoba meruntuhkan tembok batasan seorang guru dan muridnya. Aku adalah temanya yang berusaha membuatnya menjadi lebih baik dan bertahan saat dia mulai tak memperhatikanku lagi. Sulit awalnya mendekatinya namun akhirnya aku berhasil dekat dengannya sebagai teman setelah beberapa hari aku lakukan pendekatan. Pendekatan yang kulakukan mulai dari ikut nongkrong bersamanya saat istrirahat, membelikanya pentol dan terang bulan (martabak manis), menyapanya terus menerus saat aku melihatnya tidak ikut sembahyang dan bermain dengan anak-anak SMP dan SMA, menjadi wasit saat dia bermain bola bersama teman-temanya, dan masih banyak hal lainnya. Intinya adalah aku mencoba menjadi teman berbaginya. Dia mungkin bukan anak kecil lagi yang bisa langsung dimarahi di depan kelas ketika melakukan kesalahan. Aku lebih memiliih untuk menegurnya setelah kelas selesai sambil bercanda gurau denganya agar dia tidak canggung atau malu denganku. Ketika pendekatanku berhasil dia lebih bisa menghormatiku ketika di kelas dan menurutiku ketika aku memintanya menghafalkan bacaan sholat. Sudah tak ada lagi bantahan ataupun kenakalan-kenakalan berlebihan ciri khas Rizki. Aku juga sering menempatkanya di kelompok anak-anak pintar di kelasku agar dia bisa menjadi lebih berusaha lagi dalam belajar demi nilainya yang bagus. Walaupun hal ini sulit dilakukan karena hampir semua anak-anak menolak mengajarinya karena tingkahnya yang tidak bisa diam dan enggan untuk diajari oleh anak lainnya. Kembali tantangan bagiku semakin sulit tapi aku tak menyerah.

Mendekati ujian semester 1 akupun mencoba merayunya untuk ikut les setiap malam di rumahku agar dia sedikit bisa paham tentang pelajaran. Mungkin aku tidak memintanya secara ekstrem untuk langsung mendapatkan nilai yang tinggi namun setidaknya dia mengerti pelajaran yang aku berikan pada hari itu dan ketika ulangan dia tidak harus mencontek. Untuk masalah mencontek dia adalah ahlinya menekan temanya yang lain untuk mendapatkan jawaban. Berbagai trik kerapa dilakukanya ketika aku melakukan ujian kecil demi tambahan nilai. Aku tetap berhasil mengalahkan trik-trik yang dia lakukan itu. Aku mengatakan padanya ketika duduk-duduk di depan kelas tentang kejujuran agar dia tidak harus mencontek terus. Dari semua perilakunya yang kurang positif ini ada beberapa hal yang baik pula. Selama dia berada di kelasku telah mengalami sebuah perubahan drastis tentang sikap mengalah atau jujur. Seperti ketika ada suatu kejadian dimana salah seorang anak dikerjai temanya dengan meletakan permen karet di tempat duduknya. Pada saat itu tidak ada satupun anak yang mau mengakui perbuatan itu termasuk Rizky. Namun aku yakin dia yang melakukanya karena melihat perilaku dia pada saat itu yang mencoba menyuruh temanya yang lain yang mengakui perbuatan itu. Akhirnya setelah lama aku menunggu dan mengatakan bahwa yang jujur mengatakan bahwa itu perbuatanya tidak akan diapa-apakan (sebelumnya anak-anak ini terbiasa dipukul dengan kayu,digigit rambutnya, dicekik hingga terangkat, ditendang oleh guru-guru yang laen ketika membuat kelas gaduh atau mengganggu yang lain) maka kemudian dia mengakuinya. Kejujuran pertama yang kemudian menular pada teman-temanya yang lain ketika mereka melakukan kesalahan mereka langsung mengakuinya. Tak ada lagi kebohongan diantara anak-anak di kelasku. Rizky kini juga selalu minta izin tidak datang les karena harus bekerja di perkebunan kelapa sawit atau menangkap kepiting demi mendapatkan uang tambahan.  Selain itu ketika hafalan doa-doa sholat di pelajaran agama dia adalah anak yang paling pertama maju dan langsung bisa menghafalnya. Hal ini dilakukanya karena dia ingin segera keluar kelas dan pulang. Aku memberikan kesempatan kepada anak-anak yang bisa hafalan doa-doa sholat dapat pulang lebih cepat. Inilah yang memicu semangatnya sehingga bekerja ekstra keras.

Namun suasana hatiku mulai panas lagi ketika aku tahu bahwa Rizki masih terus bermasalah di luar sekolah. Masalah yang dia timbulkan adalah dia berkelahi dengan anak kepala sekolah SMP dan SMA dimana selama ini orangtua dari anak itu sering sekali membantu kami selama ada disini terutama dalam menggalang sebuah kegiatan di masyarakat. Ketika di Grogot kami juga menginap di rumah orang tua anak ini. Bayangkan orang yang sangat baik sekali kepada kami tiba-tiba anaknya berada di bawah ancaman dari Rizky yang mengatakan ingin membunuhnya. Masalah ini berawal dari pertandingan sepakbola setiap hari minggu yang kami lakukan, dimana pada saat itu mereka berdua terlibat perkelahian dan diteruskan hingga disekolah. Tak lama setelah kejadian ini Rizky juga dipergoki bersama teman-temanya memaksa salah satu tukang bangunan yang sedang bekerja di sekolah kami untuk memberikan rokok satu bungkus yang baru dibeli, cat sekitar 2 kaleng, dan 1 kotak gagang pintu yang masih baru. Mereka kemudia mengatakan bahwa mereka adalah preman tanjung aru. Sang tukang pun sempat ketakutan karena sempat berpikir bahwa dibalik anak-anak ini ada yang mendukung jadi akhirnya dia tidak berani melawan. Walaupun Rizky sempat ditangkap oleh salah satu warga dan diintrogasi dia juga tidak mengakui perbuatanya. Akhirnya Ibu Kepala sekolah SMP dan SMA ini mencari tahu tentang anak ini di lingkungan sekitar dan mampir ke rumahnya. Ternyata ketika berbincang dengan keluarga tempat dia tinggal ada beberapa kejadian lagi yang belum saya tahu. Rizky sering memalak anak-anak perempuan di sekitarnya dan kalau tidak diberikan uangnya maka akan dirontokan giginya alias dihajar. Hal ini juga kerap dilakukan terhadap anak dari yang punya rumah tempat dia tinggal dimana ketika Rizky ingin memimjam motor namun tidak diberikan maka tak lama kemudian anak ini pasti jadi bulan-bulanan Rizky tepat di depan orang tua anak itu juga. Entah mengapa dia sungguh sangat berani melakukanya.

Rizky adalah anak titipan di keluarga ini, dia tinggal bersama tante tirinya dan ibu tirinya. Dia sudah sering pindah sekolah dan lingkungan rumah karena tingkahnya selalu meresahkan warga tempat ia tinggal. Pernah ketika ibunya memberikan makanan kepadanya, dia kemudian langsung menendang piring makanan itu ke muka sang ibu. Akupun semakin penasaran tentang latar belakang anak ini. Setelah aku cari tahu ternyata ada beberapa hal yang menyedihkan diantara semua kisah Rizky. Ayahnya bekerja di daerah Riwang yaitu perkebunan kelapa sawit yang dari tempatku tinggal berjarak 2 jam menggunakan kapal. Ayahnya tidak pernah pulang dan dulu sempat masuk penjara karena kasus pembunuhan, Ibunya adalany seorang (maaf) pekerja seks komersil. Aku merasa bahwa dia seperti ini karena tidak pernah mendapatkan perhatian penuh dari kedua orangtua dan lingkungan keras tempat dia tinggal membentuk watak dia saat ini. Masalah berikutnya adalah Rizky masih belum mendapatkan surat keterang pindah dari sekolah dia sebelumnya di Sulawesi sehingga dia belum mendapatkan nomor ujian untuk UASBN bulan Mei nanti. Jadi selama di sekolah ku dia hanyalah sebagai murid titipan daripada tidak sekolah. Seperti itulah ujar kepala sekolahku menyebutnya. Aku semakin sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa. Surat keterangan yang diminta oleh sekolah kepada keluarga Rizki di Sulawesi juga tak kunjung di urus. Aku dan beberapa orang lain sempat berpikir bahwa jika anak ini sampai berhenti sekolah maka dia bisa semakin rusak lagi oleh lingkungan. Aku takut sesuatu terjadi padanya suatu hari nanti. Dia hanyalah seorang anak kecil yang butuh bimbingan. Puncak dari semuanya adalah ketika pembagian rapot dia tak datang dan beberapa anak-anakku mengatakan bahwa Rizky sudah tidak sekolah karena dia pergi ke Riwang tempat perkebunan kelapa sawit membantu ayahnya mencari uang. Habis sudah kesempatanku mendekatinya dan merubahnya. Bagi masyarkat sini ketika sang anak sudah dapat menghasilkan uang maka dia tidak butuh lagi untuk ke sekolah. Pandangan ini yang agak sulit aku ubah.

Hingga saat ini aku masih menunggu saat yang tepat untuk menyelesaikan tulisanku ini karena aku ingin ceritaku berkahir bahagia dengan Rizky yang kembali ke sekolah. Tapi kini aku lebih memilih untuk menunggu saat-saat dia kembali lagi ke sekolah sekedar untuk bertemu teman-temanya. Aku tidak bisa meminta bantuan siapapun disini selain memohon kepada Allah agar Rizky dijauhkan dari segala masalah. Aku masih merencakan untuk pergi ke Riwang pada hari libur  untuk mencari Rizky demi menanyakan alasanya secara langsung dan bertatap muka denganya. Aku ingin tahu keinginan sebenarnya dari anak ini apa. Jangan salahkan anak ini karena semua tingkah lakunya.Tolong jangan jauhkan dia dari semua teman-temanya yang baik. Jangan jauhkan dia dari pendidikan walapun dia harus bekerja bersama orangtuanya.

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2012 in Uncategorized

 

Sahabat Setiaku Kini Raket Listrik dan Minyak Kayu putih

Kaki ku dulu masih mulus tapi kini sudah korengan (dengan nada iklan salah satu vitamin anak). Dulu ku sering bangga ketika melihat kakiku masih mulus (walau ada bulunya), putih dan bersih. Aku selalu merawatnya karena ini adalah kebanggaanku juga. Bayangkan saja muka sudah lumayan bersih eh masak kakinya korengan.Makanya aku selalu berusaha menjaga kebersihan badan termasuk kaki. Kaki juga adalah sumber penyakit jika kita tidak rajin membersihkan. Namun kini ketika aku sedang mengabdi menjadi guru di sebuah desa bernama tanjung aru tepatnya di Paser, Kalimantan Timur, aku sudah tidak perduli dengan bagaimana bentuk kakiku lagi. Korengan berwarna warni, ada yang hitam, masih merah karena baru aku garuk, ukuranya ada yang panjang, pendek, bulat melebar dsb. Semuanya menjadi tato selamat datang bagiku selama aku mengajar di desa ini. Bangun pagi sebelum ke sekolah aku pasti sudah mendapatkan jatah ciuman selamat pagi dari para nyamuk dan agas (sejenis nyamuk tapi lebih halus, tak terlihat dan kecil sekali ketika menggigit langsung meninggalkan bentol yang besar, merah dan gatal).

Garuk…garuk…garuk…. tak ada hari tanpa menggaruk kecuali ketika aku di balikpapan liburan. Di pagi hari pasti sudah ada update bekas luka terbaru karena para nyamuk dan agas ini menggigit ketika tidur di malam hari. Walaupun menggunakan autan, soffel, obat nyamuk, minyak tawon, minyak kayu putih, bedak caladine cair dan bubuk atau pakai celana panjang semuany tidak berpengaruh karena gigitan itu tetap menembus celana panjangku. Ketika aku berangkat ke sekolah dan berada di sekolah nyamuk dan agas tidak begitu banyak sehingga aku tidak harusK selalu menggaruk-garuk di depan anak-anakku di kelas. Namun itu hanya libur sesaat dari pertemuanku dengan para nyamuk dan agas ini. Sepulangnya dari sekolah akupun bertemu lagi dengan mereka ketika ku ingin istirahat. Baru saja ku ganti baju dan celana pendek untuk sekedar duduk-duduk bersantai mereka telah menghampiriku. Bagai artis baru yang selalu dikerumuni para fansnya begitu pula aku yang selalu dikerumuni oleh para nyamuk ini. Garuk dan garuk lagi adalah kebiasaanku. Aku masih tak bisa menahan gatalnya gigitan nyamuk yang di kaki-kakinya ada bintik-bintik berwarna putih ini. Bekas lukaku semakin bertambah dari ke hari sama seperti jumlah nyamuk yang tak kunjung habis dan terus meningkat.

Siang dan sore hari adalah saat bagi para binatang ini menggangguku. Saat siang hari dimana udara sangat panas sekali karena lokasi rumahku tepat di pinggir laut seperti rumah-rumah panggung nelayan-nelayan di indonesia, mereka tetap bertebaran mengincar mangsanya. Kalau kata orang sini siang dan sore itu adalah jam kerja mereka.Biasanya lebih banyak agas kalau siang dan sore. Entah darimana asal binatang-binatang ini. Sulit sekali aku menghindarinya. Ketika siang hari aku tidur di atas lantai yang hanya beralaskan seprei dan berbantalkan pelampung daru Indonesia mengajar, mereka mulai menghantuiku. Tak ada tidur siang yang nyenyak karena ditemani sahabat baruku ini. Sambil keringat terus bercucuran karena panas terik matahari semakin masuk ke rumahku, aku terus terganggu oleh suara-suara kecil nyamuk di samping kupingku dan para agas yang sedang menggerayangi kakiku. Ketika bangunpun akhirnya aku mendapatkan tambahan tato selamat datang di bagian kaki dan tangan. Malam harinya ketika sholat di mesjid dan mushola pun nyamuk-nyamuk ini sering bermunculan. Pada saat aku mengajar buta huruf para ibu-ibu yang berumur sekitar 50-an ini, para nyamuk inipun setia menemani kami. Anak-anakku yang setia membantuku memerangi mereka ketika di mesjid. Mau dibunuh hingga banyak tetap saja mereka masih terus berdatangan. Apalagi ketika air sedang pasang yang kemudian air pasang laut itu sampai di depan halaman rumahku, maka kemudian setelah surut itulah para pasukan pemberani ini semakin giat muncul dan rajin hingga kemanapun aku pergi. Di malam hari menjelang tidur aku harus melumuri kakiku dengan minyak tawon terlebih dahulu atau minyak kayu putih agar tidak begitu parah kena gigitan nyamuk. Walau sebenarnya ini juga tidak banyak membantu, Kemudian kejadian ini terus berulang setiap hari hingga sekitar 2 bulan aku disini.

Namun untuk mengurangi jumlah nyamuk itu aku kemudian meminta kepada fasilitator kabupaten untuk membelikan raket listrik untuk membunuh para tentara bayaran ini. Dari hari ke hari aku selalu bertanya kepada orang sekitar, keluarga, teman hingga pacar mengenai cara mengurangi gatal gigitan nyamuk sekaligus menghilangkan bekasnya yang telah menumpuk banyak di kaki, paha dan tanganku. Beberapa masyarakat sini berpandangan bahwa hal ini biasanya hanya berlangsung sementara dan lama-kelamaan akan sudah terbiasa dan tidak digigit lagi. Aku sempat berpikir sampai kapan ini akan berakhir karena hingga bulan ke 2 aku disini kebiasan serangan maut ini tidak kunjung hilang. Menurut orang dari puskesmas disini gigtan agas dan nyamuk ini tidak berbahaya namun memang gatalnya bisa menyebabkan alergi dan bekas luka yang agak sulit hilang. Salah satu kepala sekolah di SMP dan SMA disini menyarankanku untuk menggunakan caladine cair yang katanya efektif mengurangi rasa gatal plus tidak berbekas. Akupun sempat mencobanya untuk mengurangi dampak dari serangan tentara maut ini. Hasilnya adalah setiap sore kakiku selalu penuh dengan warna pink (warna caladine cair) yang berada di atas setiap bekas lukaku. Memang awalnya sangat mengurangi rasa gatal namun ternyata itu hanya sementara. Karena nyamuk dan agas itu tak kunjung berkurang jumlahnya sehingga tetap menggigitku lagi dan lagi. Maka kemudian obat ini aku tinggalkan selain telah membuat kakiku selalu penuh warna dan baunya yang kurang sedap, aku melihat bahwa ini tidak begitu efektif. Solusi terakhir adalah raket listrik nyamuk yang memang aku pesan ke fasilitator kabupaten. Rencananya itu baru akan datang minggu depan.

Akhirnya datang juga hari dimana senjata pamungkasku datang demi menghadapi serangan tentara berani mati ini. Di hari pertama aku langsung menggunakanya dan membasmi para nyamuk yang ada di rumahku. Aku keliling dari kamar satu ke kamar lainnya termasuk ke kamar mandi karena di tempat ini aku juga sering diserang. Saat sedang buang air pasti mereka selalu menemaniku hingga aku tak betah berlama-lama di kamar mandi. Hari pertama itu aku panen. Trekkkk…trekkkk…trekkkkk…trekkkk….suara raket listrik ini membuatku sangat puas sekali. Menurutku cara mengurangi gigitan nyamuk ini adalah dengan mengurangi populasinya maka kemudian cara ini adalah langkah terakhirku untuk menghadapi mereka selama setahun ke depan. Selama aku menggunakan raket ini sudah lumayan kurang gigitan nyamuk ini karena sebelum tidur aku pasti melakukan razia besar-besaran di sekitar tempatku tidur.Selain raket listrik ini akupun punya teman setia satu lagi yaitu minyak kayu putih sebagai pengobat gatal bekas gigitan atau dalam perang sebagai peralatan P3K  untuk menyelamatkan para tentara yang sedang terluka. (Lebay mode ON) Kemanapun aku pergi sudah tidak begitu perduli dengan wangi dari parfum atau pewangi lainnya. Kini bauku adalah bau minyak kayu putih. Kapan pun dan dimanapun aku selalu membawanya. Ketika menjadi juri dance di tempatku pun aku membawanya ke atas panggung. Aku sudah tidak perduli apa kata orang, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku bisa melawan rasa gatal ini.

Sungguh nyamuk dan agas menjadi musuh utamaku dimanapun dan kapanpun aku berada. Dirumah, di mesjid, di sekolah, di kamar mandi, di jalan dan dimana-mana ada orang pasti ada mereka. Hingga kini aku masih terus berjuang menghadapi serangan nyamuk dan agas ini sambil terus berharap bahwa bekas luka yang telah menjadi koreng di kakiku cepat hilang dan sembuh. Anak-anak muridku sampai pernah berkata kepadaku kala melihat kakiku, “ Bapak kok kakiknya jorok sekali seh? Tidak pernah mandi ya?”, kacau, kacau, kacau.Mereka saja sudah memanggilku seperti ini bagaimana dengan teman-temanku nanti. Tapi tak apalah hal ini terjadi padaku, karena ini adalah kenang-kenangan yang sedang dibuat dan diukir oleh para penghuni desa tanjung aru terhadap tubuhku. Bersyukurlah kalian yang masih bisa tidur nyenyak dengan AC, kipas dan tempat tidur nyaman di rumah masing-masing. Tak ada nyamuk atau agas dimanapun kalian berada. Ketika di kamar mandi kamu bisa benar-benar menikmatinya,ketika tidurpun tidak terusik oleh apapun, ketika sholatpun tidak harus garuk-garuk karena gatal gigitan nyamuk. Bersyukurlah wahai kawan. Aku juga bersyukur disini masih hanya berhadapan dengan nyamuk dan agas saja. Mungkin teman-temanku di daerah lain lebih tersiksa daripada aku disini. Bersyukur aku masih tetap sehat walau terus digigit oleh nyamuk-nyamuk disini. Masyarakat sini tidak ada yang meninggal karena gigitan nyamuk dan agas jadi aku tidak perlu takut.Sahabatku minyak kayu putih dan raket listrik akan selalu bersamaku mengarungi satu tahun mengabdi di tanjung aru sebagai guru SD.

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2012 in Uncategorized

 

Demi Sebuah Upacara

Hari ini adalah aku berangkat ke sekolah lebih pagi karena ada sebuah upacara yang kemarin diinformasikan oleh salah satu guru sekolah. Upacara bendera kali ini diadakan di kantor kecamatan daerah tanjung harapan yang cukup jauh dari tempatku maupun sekolah. Namun aku dan temanku belum pernah sama sekali ke sana. Tepat pukul setengah 8 kami berangkat dari rumah dimana sebelumnya kami sarapan nasi kuning dengan lauk ikan tongkol yang telah disediakan oleh ibu asuhku disini. Nasi kuning adalah sarapanku setiap pagi dengan porsi nasi yang sangat banyak setara dengan porsi 1 nasi warteg dekat trans tv. Kadang aku tak sanggup menghabiskanya namun kali ini aku memiliih untuk mengabiskanya mengingat perjalanan jauh yang akan kami tempuh. Kami berdua berjalan kaki menuju sekolah sambil bercerita dan berdiskusi tentang kapan akan bagi rapot dan apa rencana kegiatan ke depan untuk memberi semangat belajar kepada anak-anak. Dari rumah ke sekolah kami ditempuh dengan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki menyusuri jalanan yang sudah mulai di semen beton.

 

              Sesampainya di sekolah anak-anak sudah menyambut di depan pagar sekolah dengan berkata, “ Pak aku bawa tanamanya di tempat bekas aqua aja ya. Nda apa-apa kan?walapun kecil kan tapi lucu pak bunganya” sambil menunjukan bunga warna kuning yang ada di tanaman tersebut. Namun tiba-tiba salah seorang anak berkata dengan lantangnya “ Pak, dia curang kan itu bunganya di tempelin ke tanamanya pake paku”, akupun tertawa dan sambil tersenyum sedikit. Aku mencoba menjawab dengan kata-kata yang lebih tenang “ Iya tidak apa-apa itu tandanya dia kreatif supaya dia bisa tetap bisa terus melihat bunga it walau belum saatnya tumbuh”. Lalu kemudian aku melanjutkan untuk menuju ke kantor guru. Anak-anak hari ini membawa tanaman masing-masing satu orang satu sebagai tambahan nilai IPA agar nilai mereka tidak jelek di rapot. Sesampainya aku di kantor guru seperti biasa belum ada satupun guru yang datang dan beberapa jendela masih tertutup kordennya. Kamipun membukanya satu-persatu sambil kemudian duduk di sofa menunggu guru-guru lainnya datang.

              Tak lama satu per satu guru datang dan mereka langsung duduk-duduk dan bercerita dengan guru yang lainnya. Pak kepala sekolah juga turut datang setelah sekitar 1 bulan tidak kembali dari Tanah Grogot dengan alasan banyak urusan yang penting sehingga tidak bisa ke sekolah dan baru sekarang ini bisa kembali. Kamipun bertanya kepada beliau tentang upacara akan dilaksanakan jam berapa dan bagaimana dengan anak-anak yang ada di sekolah apakah dipulangkan atau tetap di sekolah. Beliau pun meminta kami memberitahu bahwa anak-anak sebaiknya dipulangkan karena tidak ada yang mengawasi. Kamipun kemudian segera menuju ruang kelas kami untuk memberitahu anak-anak untuk pulang kecuali 10 orang anak yang telah kami pilih untuk ikut serta dalam upacara. Sesampainya di kelas anak-anak langsung menyambut dengan ajakan untuk bermain bola, “Pak nda usah remedial ya pak, aku belum hafalin doa-doa sholat nah (remedial agama), apalagi hafalan perkalian dan pembagian pak sampai sekarang aku masih pusing karena semalem hafalin tapi nda bisa-bisa (remedial Matematika), mendingan kita maen bola aja pak.Gimana?” . Akupun hanya menjawab dengan “ Iya nanti main bolanya, sekarang masuk kelas dulu ya karena ada pengumuman penting” Mereka pun segera masuk kelas dengan segera sambil duduk rapi. Seperti biasa ketika aku mengumumnkan tentang pulang lebih cepat mereka akan sangat girang sekali.Tak ada yang merasa sedih tidak sekolah karena ini berarti mereka bisa main lebih lama bersama teman-temanya di rumah. Beberapa anak-anak yang telah kami pilih sangat senang ikut upacara ini walaupun selama mereka sekolah di SD tersebut hanya pernah merasakan upacara sebanyak 3x mulai dari ketika mereka SD kelas 1 hingga kelas 6 saat ini, namun ini tak menyurutkan mereka untuk mengikuti upacara kecil ini.

 

         Setelah aku pulangkan anak-anak kemudian aku segera menuju ke kantor guru lagi untuk bersiap-siap berangkat mengikuti upacara di kantor kecamatan dalam rangka Hut Kota Paser. Aku dan temanku sesama pengajar muda memilih untuk berjalan kaki bersama sahabat-sahabat kecil kami. Ada salah satu anak yang membawa kendaaran dan satu orang lagi membawa sepeda.  Akhirnya 4 orang berangkat menggunakan satu sepeda dan satu motor sedangkan guru-guru lain menggunakan sepeda motor pula. Hanya kami dan beberapa anak-anak kami yang berjalan kaki. Para guru sempat mengajak kami untuk ikut bersama mereka naik motor namun dikarenakan kondisnya tidak mencukupi jadi kamilebih memilih untuk jalan kaki bersama anak-anak. Para muridku pun sempat mengingatkan bahwa perjalanan ke kantor kecamatan sangat jauh sekali jika ditempuh dengan jalan kaki. Namun kami akhirnya bilang bahwa tidak apa-apa karena ini sekaligus olahraga pagi. Maka kamipun dengan sedikit nekat berjalan kaki yang entah berapa jauh perjalanannya.                         Cuaca cukup cerah untuk sedikit menghitamkan diri lagi hari ini. Beberapa guru sempat mengajak kami untuk ikut naik motor namun kami memilih untuk anak-anak murid kami saja yang ikut dan kami tetap jalan kaki. Walau hampir sebagian besar dari mereka tidak mau ikut naik motor karena ingin berjalan bersama kami tapi kami tetap memaksa mereka. Kami hanya berpikir bahwa perjalanan ini akan sangat jauh dan lebih baik mereka naik motor. Setelah sekitar 1 km kami berjalan kaki bersama 5 orang murid yang tersisa dari seharusnya 10 orang, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang menanyakan akan kemana berjalan kaki bersama anak-anak di pagi hari ini. Kemudian saya menjawab bahwa kami akan menuju ke kantor kecamatan bersama mereka karena ada upacara. Orang tersebut sempat kaget dan kemudian mengeraskan suaranya sambil sedikit berteriak karena kami menjawab pertanyaan sambil berjalan menjauh, “ Pak kantor kecamatan itu jauh sekali, sekitar 5 km. Bapak yakin jalan kaki? Apa mau saya antar naik motor?” Kemudian untuk ke sekian kalinya kami menolak demi berjalan kaki bersama anak-anak.  Tapi tak lama kami terdiam sejenak dan saling memandang dengan mengerutkan dahi dan bertanya, “Perjalanan ke kecamatan 5 km? Yakin kita jalan kaki?” kamipun mulai ragu karena perjalanan tersebut terlalu jauh tapi kami terus mencoba berjalan kaki dan sedikit berharap bahwa akan ada guru-guru yang tadi naik motor kembali lagi untuk menjemput kami. Tak lama kemudian tepat di depan SMP dan SMA Tanjung Harapan, para guru yang menggunakan motor kembali untuk menjemput kami dan murid kami. Mereka mengatakan hal yang sama bahwa perjalanan ke kantor kecamatan sangat jauh sekali. Akhirnya kami memilih untuk naik kendaraan bersama beberapa anak murid agar segera sampat di kantor kecamatan.

                 Setelah berjalan sekitar 10 menit menggunakan motor kami sampai di suatu jalan yang sudah tidak bisa dilewati lagi karena jalanan rusak dan ada truk yang tersangkut disana. Kendaraanpun tidak bisa lewat sehingga ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan dan kami semua memilih untuk melanjutkan dengan berjalan kaki dimana perjalananya masih sekitar 1,5 km lagi. Sungguh perjalanan yang sangat panjang dan panas. Langit terlihat begitu cerah dengan warna biru menghiasinya tanda awan pun tak menampakan diri sehingga sinar matahari menemani perajalanan kami secara langsung  tanpa penghalang apapun. Demi sebuah upacara kecil ini kami bersama anak-anak kami dan para guru berjalan bersama. Menelusuri jalan-jalan yang becek dan berlumpur dan terdapat bekas roda ban truk yang selalu lewat sini karena sedang tahap pembuatan jalan baru. Di kanan kiri kami adalah tambak dan hutan bakau, disertai beberapa hutan yang masih asli pula. Jika kami berjalan di sore hari kami bisa menemukan kumpulan monyet bekantan yang sedang bergerombol dalam kelompoknya. Sesekali anak-anak bilang bahwa kami harus berhati-hati jika berjalan disini sendirian karena masih ada beruang yang cukup besar di dalam hutan dan sering keluar untuk mencari makan. Biasanya mereka makan kelapa dengan memanjat pohon kelapa yang ada disini dan memakan daun serta buahnya. Pantesan saja ada beberapa pohon kelapa yang daunnya di atas sudah rusak dan buah kelapanya sudah tidak ada. Bukan seperti diambil oleh orang namun entah oleh apa.

        Setelah berjalan sekitar setengah jam menyusuri jalan yang rusak parah dan udara panas di daerahku akhirnya kami sampai juga di kantor kecamatan. Ini pertama kalinya kami sampai di kantor kecamatan yang ternyata sangat besar dan bersih ini. Jelas bersih karena tidak ada para pegawainya yang rajin datang kesini. Kondisinya yang sangat jauh dari rumah dinas para pegawai kecamatan serta jalan yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan terutama ketika hujan telah membuat para pegawai kantor ini sulit melayani masyarakat di kantor kecamatan. Beberapa dari mereka memilih untuk melayani masyarakat dengan langsung ke rumahnya saja atau warga tersebut yang pergi ke rumah dinas mereka.Sesampainy disana para pegawai kecamatan telah berkumpul, anak-anak smp dan sma juga telah ada ditemani pula oleh perwakilan beberapa staf pengurus desa kecuali kepala desa yang entah kemana selama ini. Sekedar informasi bahwa selama 2 bulan kami disini kami hanya pernah bertemu dengan kepala desa 1x kali saja. Itupun karena ada ketua dinas pariwisata yang sedang berkunjung ke Tanjung aru. Selebihya kepala desa atau biasa disebut lurah ini selalu berada di kota Tanah Grogot selama yang dia mau. Tak ada yang menegur ataupun dapat membuatnya menetap lebih lama di desaku.

            Kembali pada upacara bendera tadi dimana kami semua mulai disiapkan oleh beberapa anggota TNI yang datang untuk memimpin upacara ini. Beliau menjelaskan terlbih dahulu cara baris berbaris kepada para perwakilan warga, tokoh masyarakat, pengurus kecamatan, pengurus puskesmas, siswa-siswi SD, SMP dan SMA. Hal ini dilakukan karena warga sini tidak pernah mengikuti upacara dan tidak mengetahui dengan baik aturan baris berbaris. Sempat beberapa kali anggota TNI ini menjelaskan kepada kami semua namun masih saja ada yang tidak mengerti. Mereka memandanga hal ini tidak penting dan lebih baik segera saja upacara. Sebelum memulai upacara anggota TNI ini meminta dengan hormat kepada kami semua untuk mematikan HP agar nantinya tidak mengganggu khidmatnya upacara bendera. Pasukan paskibraka dari SMA Tanjung Harapan telah bersiap-siap pula dengan pakaian lengkap warna putih. Para siswa dan siswi pun mulai dibariskan, begitu pula dengan siswa dari SD kami. Mereka dipisahkan dari anak-anak SMP dan SMA sehingga mereka membuat barisan kecil yang terdiri dari 10 orang.Upacara pun dimulai ketika protokol membacakan susunan acara.

           Ada yang berbeda dari upacara-upacara pada umumnya. Pada upacara ini ada pembacaan teks sejarah kota Paser dari mulai awal berdiri hingga saat ini. Upacara ini berjalan dalam waktu kurang lebih satu jam, sungguh waktu yang sangat lama bagi anak-anak disini. Banyak peristiwa yang unik saat berlangsungnya upacara. Kejadian pertama adalah saat terdapat para pengurus desa yang baru saja datang di pertengahan upacara. Mereka segera mengambil posisi di belakang kami semua. Namun tiba-tiba suara musik Cinta Satu Malam terdengar sangat nyaring dari HP salah seorang diantara mereka. Karena panik akhirnya mereka kebingungan bagaimana cara mematikan HP tersebut. Bunyi lagu itu terus menggema di upacara yang sangat hening itu,sehingga tak pelak membuat banyak peserta upacara tertawa-tawa. Akhirnya HP itu berhasil dimatikan dengan usaha yang sangat keras sekali.Sepertinya itu bukan HP mereka atau mungkin hanya meminjam sehingga mereka tidak tahu bagaimana mematikannya.Selain itu ada beberap peserta upacara yang terus mengeluh karena upacara sangat lama. Hal ini telah membuat mereka kemudian duduk-duduk di belakang kami tepat di bawah pohon rindang. Cukup lama mereka duduk disitu sambil sesekali bergosip. Aneh dalam upacara seperti ini para ibu-ibu malah sibuk membicarakan yang lain. Inilah budaya yang ada di desaku dimana memang mereka tidak biasa upacara jadi jika bosan maka mereka melakukan apapun yang mereka mau. Beberapa anak-anak dari SD ku pun mulai bertumbangan ketika upacara tersebut, ada yang muntah, pusing, lemas, dll. Mereka semua ternyata belum makan sehingga tidak kuat terlalu lama berdiri di bawah sinar matahari yang sangat panas ini.

         Setelah upacara selesai anak-anak dari SD kami meminta segera pulang karena mereka lelah sekali. Mreka belum bisa langsung istirahat lagi karena harus berjalan lagi sejauh 1,5 km untuk mencapai tempat kami meninggalkan kendaraan kami disana. Tak ada minuman atau makanan yang disediakan bagi kami sehingga anak-anak ini mulai kehausan plus kelaparan. Ada 2 orang yang segera berlari mencari tebu untuk mereka makan dalam perjalanan pulang. Akhirnya kamu mulai berjalan lagi bersama guru-guru yang lain sejauh 1,5 km ke arah tempat kami meninggalkan motor kami yang tidak bisa melewati jalan yang rusak ini. Semakin siang semakin panas pula udara disini. Semakin hitam pula kami dibuatnya, semakin basah pula baju kami dipenuhi keringat. Namun anak-anak ini tidak mengeluh, mereka tetap semangat dengan membawa beberapa tebu untuk dimakan. Mereka ingin capek sama-sama dan senang sama-sama kami semua. Sungguh sikap yang paling aku suka. Selama perjalanan panjang ini mereka terus bercerita agar tidak begitu terasa capek. Sesampainya disekolah kami kemudian membelikan mereka sirup dingin yang sangat segar. Sungguh nikmat sekali rasanya di udara super panas dan kondisi super capek kami mendapatkan kesegaran ini. Luar biasa mensyukuri adanya air dingin kami semua. Beberapa anak-anak kami masih terus menikmati tebu yang tadi mereka ambil di kebun dekat kantor kecamatan.

            Demi sebuah upacara sederhana dalam Hut Kota mereka, mereka rela berjalan sejauh ini. Tak mengeluh, tak membantah walau mereka bisa saja bilang tidak ketika tahu tempat tujuannya sangat jauh. Demi sebuah upacara mereka rela terjerembab dalam kubangan lumpur di jalan yang rusak. Demi sebuah upacara mereka rela menemani gurunya yang tidak tahu jalan ini agar sampai disana dengan gembira pula. Demi sebuah upacara mereka menjadikan kulit mereka lebih hitam dan lebih kotor, menjadikan baju mereka semua dibanjiri keringat yang tak kunjung berhenti, menjadikan dahaga mereka akan air jadi semangat untuk tetap terus berjalan jauh hingga tujuan tercapai. Berbeda sekali dengan beberapa guru yang ikut dalam upacara ini dimana mereka selalu mengeluh dan mengatakan bahwa upacara ini tidak penting dan tidak perlu berjalan sejauh ini. Mengeluh ketika upacara berajalan sangat lama sekali, mengeluh saat tidak disediakan makan dan minum setelah upacara,mengeluh karena jalanan yang rusak dan belum diperbaiki.Demi sebuah upacara anak-anakku lebih bisa menghargai keadaan yang ada di sekitar mereka dibandingkan orang lain.

 
1 Comment

Posted by on September 24, 2012 in Uncategorized

 

Kau Membuatku Terdiam Anak-Anakku

Kelas 6BSaat pertama datang ke SD 001 Tanjung Aru aku melihat sekolah yang sudah cukup baik fasilitasnya dengan jumlah murid sekitar 360-an. Gedung sekolah masih ada yang belum jadi karena masih dalam tahap pengerjaan, kantin berada di luar sekolah dengan bentuk seperti gazebo dengan atap dari daun kelapa yang disusun rapi dan diikat, kamar mandi ada 3 dimana 2 dari kamar mandi itu terkunci dengan gembok sangat rapat dan hanya satu kamar mandi yang terbuka untuk anak-anak namun tak ada air bersih yang mengalir dengan baik ditambah dengan kotornya lantai dan diding kamar mandi. Ruang kelas total ada 6 ruang namun ruang kelas ada yang sudah bagus karena telah ditembok batu sedangkan 3 kelas lainnya masih dari kayu dihiasi warna pink. Di dalamnya dihiasi warna krem yang lengkap dengan coretan anak-anak kelas 6 sebelumnya sehingga terlihat sangat kotor. Di ruang kelas yang lama atap ruangan tepatnya di tengah akan segera runtuh karena sudah rusak. Kursi guru pun ternyata hampir patah, mungkin jika saya duduk harus terus memperhatikan kaki kursi yang bisa saja tiba-tiba patah kapan pun.

SD 001 Tanjung Aru memang memiliki lapangan yang cukup luas untuk anak-anak bermain bola setelah istirahat atau ketika pulang sekolah namun lapangan itu tidak pernah digunakan untuk upacara bendera. Bukan karena muridnya tidak ada namun lebih karena jarangnya guru-guru berada di sekolah sehingga kalaupun upacara tidak bisa dilaksanakan dengan baik karena tidak ada pembimbing. Selain besar dan luas, lapangan ini juga turut dihiasi sampah-sampah plastik dari makanan atau minuman siswa yang langsung mereka buang di sembarang tempat. Layaknya tempat pembuangan sampah raksasa, lapangan upacara SD 001 ini sampahnya tersebar di semua tempat tanpa terkecuali. Entah siapa yang akan membersihkan nanti atau memungutnya.

Bukan hanya di sekolah tapi di sekitar sekolah terdapat beberapa lokasi lainnya yang turut dijadikan tempat sampah bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak yang menjajakan makanan dan minuman di kantin sekitar sekolah. Jika melihat kembali ke dalam sekolah dan menuju beberapa ruangan di ujung dekat dengan bangunan yang dalam proses pembangunan, terdapat ruangan guru dan UKS. Namun sayangnya ruangan itu salah satunya tidak digunakan sebagaimana mestinya karena di ruang UKS itu digunakan sebagai gudang bagi para kuli bangunan. Tempatnya kotor dan berdebu tidak menunjukan bekas ruang UKS pula karena tidak ada kotak P3K atau tempat tidur kecil bagi anak-anak yang sakit. Ketika masuk ke ruangan guru aku mendapati ruangan yang cukup nyaman dengan 6 meja guru menghadap 2 meja guru di samping pintu. Sebuah ruang kecil tersisa untuk ruang kepala sekolah yang ketika kita keluar dari pintunya ada ruang tamu sederhana untuk sekitar 4 orang dengan jendela di atasnya yang sering digunakan oleh anak-anak untuk melihat ke dalam ruangan guru jika ada sesuatu yang sedang ramai seperti misalnya ada salah satu temannya pingsan karena kena bola hasil tendangan berbakat anak-anak sd tanjung harapan yang salah sasaran ke muka teman wanitanya. Anak itu kemudian pingsan dan dibawa ke ruangan ini karena tidak ada UKS.

Beberapa hari di sekolah itu aku melihat kondisi yang tidak berubah hingga sekitar 2 minggu aku mengajar di kelas 6B. Tak ada perubahan kondisi kelas ataupun hiasan tambahan dari hasil karya kami ataupun kelas-kelas lainnya. Bukan karena aku tidak ingin memperindah ruangan kelas mereka namun karena aku juga harus memprioritaskan mengajar mata pelajaran yang masih jauh ketinggalan. Mungkin saat ini beberapa sekolah dasar di Jakarta mendekati UAS dengan melakukan latihan soal-soal yang terdapat dalam buku bank soal namun pemandangan berbeda dapat ditemui di sekolah ini dimana guru-guru masih sibuk mengajari anak-anak ini pelajaran tentang perkalian dan pembagian. Bagi anak-anak kelas 6 seharusnya mereka sudah bisa menghafal dan menerapkan ini untuk menyelesaikan soal namun berbeda dengan anak-anak kelas 6 SD disini. Mungkin mereka kelas 6 namun kemampuan mereka masih seperti anak-anak kelas 4 SD. Sebenarnya bukan karena mereka bodoh ataupun gurunya yang kurang cerdas dalam menyampaikan namun kondisi keluarga, lingkungan, dan keterbatasan fasilitaslah yang menjadi penghambat mereka berprestasi. Inilah kondisi yang coba kami ubah agar sekolah ini juga dapat menelurkan bakat-bakat luar biasa yang bisa mengharumkan nama bangsa suatu hari nanti. Salah satu keterbatasan disini adalah tidak adanya buku paket untuk mengajar bagi anak-anak disini. Beberapa mata pelajaran penting seperti Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia tidak memiliki buku paket yang dapat dibaca oleh masing-masing anak. Hanya guru yang memiliki buku ajar ini.

Namun ada beberapa guru juga tidak memiliki sama sekali buku cetak untuk mata pelajaran tertentu. Inilah mungkin yang menjadi penghambat mengapa anak-anak disini sulit untuk mengejar prestasi mereka. Terdapat beberapa alasan mengapa sekolah belum bisa menyediakan buku-buku ini. Alasan yang pertama adalah karena tidak ada dana untuk memfasilitasi kebutuhan anak-anak ini. Dana yang ada difokuskan pada pembangunan gedung sekolah dan kebutuhan lainnya yang kami sendiri tidak tahu. Isu dana adalah isu yang sangat sensitif disini sehingga kami tidak pernah ingin terlalu dalam membahasnya.

Kondisi pendidikan anak-anak disni pun cukup memprihatinkan dalam banyak hal. Kebetulan aku mendapatkan kepercayaan untuk mengajar kelas 6 dari awal aku datang hingga saat ini. Aku telah melihat banyak hal yang sangat miris jika kita bandingkan dengan pendidikan di kota-kota besar saat ini. Sungguh berbeda kondisi mereka dan apa yang mereka alami. Hal pertama yang membuat aku hingga saat ini masih belum bisa menyelesaikannya dengan cepat adalah masalah kemampuan anak-anak dalam berhitung terutama perkalian dan pembagian. Materi yang sangat dasar sekali bagi anak-anak SD untuk dipahami namun disini menjadi pelajaran yang sangat menakutkan dan sulit ditaklukan. Hingga hari ini hampir 90 % mereka tidak bisa perkalian dan pembagian. Pada awal aku masuk dan mengajar matematika aku langsung menjelaskan materi seolah-olah mereka sudah paham tentang hal ini. Aku sudah berencana untuk menggunakan strategi belajar kreatif demi membuat anak-anak ini mencintai matematika. Namun hal yang tak kuduga pun terjadi ketika ku tanya pada mereka tentang operasi perkalian. Mereka hanya diam sekitar 5 menit dan kemudian hanya 1 orang yang menjawab dengan nyaring dan benar. Padahal pada saat itu aku bertanya tentang perkalian 3 x 5 adalah berapa? Tak ada yang berani menjawab dan ternyata di kelas itu yang hafal perkalian dan pembagian hanya 1 orang. Dari total 27 orang hanya 1 yang bisa ? Akupun sempat terdiam dan membisu sambil bertanya mengapa mereka tidak bisa menjawab soal yang mudah ini. Mereka pun hanya diam dan sedikit ketakutan  seperti seolah-olah aku ingin memukulnya. Salah seorang anak kemudian menjawab bahwa mereka belum hafal perkalian dan pembagian dan mereka terlihat ketakutan karena biasanya jika mereka tidak bisa maka guru tersebut akan memukulnya dengan kayu atau menghukumnya dengan menyuruh mereka berputar-putar di depan dengan satu jari memegang telinga dan jari lainya menunjuk ke lantai.

Hukuman lainnya bisa berupa tendangan ke kaki mereka, menggigit rambut anak itu, memukul, diberi cabe di mulutnya jika ketahuan merokok, dan banyak lagi hukuman lainnya. Inilah yang membuat mereka sangat ketakutan ketika aku hanya bertanya kepada mereka namun mereka tidak bisa menjawabnya.Mungkin mereka trauma terhadap perlakuan guru-guru ini. Jadi anak-anak disini masih sangat banyak ketinggalan pelajaran padahal mereka sudah kelas 6 dan bersiap-siap untuk lulus ke SMP. Ada pula beberapa anak yang masih belum bisa membaca hingga saat ini walaupun mereka sudah ada di kelas 5. Namun umur mereka sudah menginjak angka 15 tahun. Menurut salah seorang guru disini hal ini menjadi buah simalakama. Di satu sisi anak ini sudah tidak naik kelas tahun lalu, kemudian setelah tidak naik diberikan metode yang lebih baik lagi untuk mengajarinya dan ternyata masih belum bisa membaca. Melihat umurnya jika tahun depan dia tidak dinaikan kelas lagi maka kondisi psikologis dia akan semakin turun. Hingga kini aku masih berusaha mendekati anak tersebut untuk mencari cara agar dia dapat membaca.

Anak-anak ini banyak yang masih tertinggal dalam pelajaran salah satu faktornya adalah kondisi lingkungan yang menuntut mereka untuk mengurangi jam belajarnya. Ini dilakukan demi kelangsungan hidup mereka juga. Alasan pertama yang aku analisa hingga saat ini adalah karena kondisi pekerjaan orang tua. Para orang tua disini pekerjaanya didominasi oleh nelayan dan petambak udang atau kepiting. Biasanya orang tua mereka pergi untuk mencari ikan pada pagi hari dan baru bisa pulang pada pukul 9 malam. Kondisi lelah tidak memungkinkan orang tua untuk membantu membimbing anak-anak mereka belajar di rumah. Begitu juga anak-anak mereka dimana ada satu masa mereka harus menemani orang tua mereka untuk mencari ikan hingga tengah malam. Hal ini dilakukan ketika musim panen ikan dimulai dari sore hari di waktu bermain mereka hingga tengah malam. Keesokan paginya biasanya anak-anak ini jarang masuk sekolah. Mereka memang harus membantu orang tua mereka demi menyambung hidup mereka.

Alasan kedua adalah anak-anak ini juga dilibatkan sebagai pekerja sendiri di waktu seharusnya mereka bisa beristirahat dan belajar. Beberapa anak-anak di kelasku setelah pulang sekolah selalu pergi berjualan wadai (sebutan untuk kue basah) keliling kampung mereka di tengah teriknya matahari hingga sore hari pukul 4 atau 5. Kegiatan mereka ini telah menyita waktu mereka seharian dimana seharusnya mereka bisa ikut les bersamaku di sekolah atau setidaknya istirahat. Sebagian anak-anak lagi setiap siang menjelang sore harus pergi ke tambak kepiting atau udang orang tua mereka untuk mengambil hasil tambak mereka yang kemudian di jual kepada para pedagang laiinya. Biasanya mereka melewati hutan-hutan kecil dan jalan yang panjang sekali hanya untuk melaksanakan perintah orang tua mereka. Kelelahan pasti selalu mereka alami tapi itu semua tak menghalangi keinginan mereka untuk menjalankan kewajiban mereka sebagai anak yang berusaha membantu orang tua mereka. Selain berjualan kue keliling dan mencari kepiting dan udang, anak-anak ini juga ada yang menjadi kuli untuk mengangkat hasil tangkapan ikan para nelayan. Ada pula yang harus mengantar es batu yang berukuran besar dengan menggunakan gerobak sedang menuju ke pasar ikan atas pesanan para nelayan ini. Aku sering melihat  mereka mendorong gerobak yang terlihat sangat berat sekali tapi mereka tetap mampu mendorongnya. Sungguh semangat mereka untuk bekerja sangat tinggi.

Seandainya semangat kerja mereka yang sangat tinggi dapat diterapkan pula ketika mereka berada di sekolah pasti mereka mampu mendapatkan nilai yang tinggi. Kemampuan mereka mungkin belum sebaik yang aku harapkan tapi aku akan terus berusaha membagi waktuku bersama mereka sebanyak-banyaknya agar mereka bisa bertanya kapanpun mereka tidak tahu tentang sesuatu. Aku ingin menjadi pengganti orang tua mereka sebagai tempat mereka bertanya ketika mereka bingung harus melangkah. Waktuku istirahatku hanya sedikit karena aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak yang cerdas ini. Siang hingga sorre bagi beberapa kelompok anak-anak yang memiliki waktu pada saat itu dan malam hari sekitar habis isya hingga malam bersama anak-anak yang seharianya di siang hingga sore hari melakukan kewajibanya membantu orang tuanya. Ku hanya ingin mereka cerdas dan mampu memimpin diri mereka sendiri suatu saat nanti ketika di masyarakat.

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2012 in Uncategorized

 

Lautku, Mautku

Pernahkah kalian melakukan penyebrangan laut dengan menggunakan kapal ? Apakah kalian pernah ikut di atas perahu nelayan di tengah laut untuk mencari ikan ? Jika masih pernah semua maka pernahkah kalian berada di sebuah kapal kecil (kapal nelayan) di tengah laut dan ditemani oleh badai dan ombak setinggi 2-3 meter dan tidak bisa kemana-mana ? Apa yang para nelayan itu rasakan ya ketika mereka tetap harus berangkat mencari ikan di laut walau badai menghadang mereka demi sebuah kewajiban sederhana, “mencari nafkah“ ? Aku sempat merasakanya namun dalam kondisi yang berbeda dibandingkan para nelayan yang pemberani ini. Tujuan yang berbeda namun suasana lautnya sama-sama mencekam. Aku telah pasrah pada saat itu. 

 

       Kisah ini dimulai ketika kami para pengajar muda yang ditempatkan di desa tanjung aru akan mengadakan sebuah kompetisi berskala nasional yaitu Olimpiade Sains Kuark. Kegiatan ini terdiri dari 3 tahap yaitu seleksi tahap 1, semifinal dan final. Nah, untuk tahap 1 ini anak-anak yang mendaftarkan dirinya untuk ikut serta harus berkumpul di Primagama Tanah Grogot yang harus ditempuh dengan menggunakan taxi kapal selama 2 jam perjalanan laut dan 2 jam perjalanan lagi melewati kebun sawit dengan menggunakan taxi L300 yang telah siap di daerah pelabuhan Lori. Sekolah kami rencananya akan mengirimkan sekitar 10 orang anak untuk mengikuti lomba ini. Inilah kegiatan pertama mereka yang bertaraf nasional dan bahkan kegiatan bersifat kompetisi pertama kali dalam hidup mereka.

 

      Namun ada beberapa kendala yang kami hadapi yaitu terkait biaya yang cukup besar hanya untuk melakukan penyebrangan ke Tanah Grogot dan juga permasalahan utama daerah pesisir yaitu cuaca buruk. Berdasarkan pengalaman masyarakat di desa ini, pada bulan Februari dan Maret adalah bulan dimana angin akan sangat kencang dan ada kemungkinan tiba-tiba di tengah laut menghadapi cuaca buruk. Ombak akan sangat besar dan angin kencang akan menjadi teman setianya. Karena pandangan inilah kemudian aku bersama temanku berpikir berkali-kali untuk sekedar membawa anak-anak menyebrangi lautan ini. Ada kemungkinan terburuk jika kami tetap memaksa berangkat ke Tanah Grogot.

 

      Maka kemudian kami memilih untuk bernegosiasi dengan panitia pusat agar kami tetap dapat mengikuti Olimpiade ini dengan membuka cabang sendiri di sekolah kami untuk peserta dari daerah pesisir sehingga tidak mengharuskan mereka untuk pergi menantang lautan yang mungkin tidak bersahabat saat hari pertandingan akan tiba. Namun kami mendapatkan tantangan kecil terkait Olimpiade ini. Kami yang diamanatkan untuk menjadi panitia cabang harus mengambil sendiri soal ujian, lembar jawaban LJK untuk latihan, soal-soal latihan dan semua yang terkait Olimpiade ini. Kami yang akan menyebrangi lautan ini demi anak-anak kami. Pilihannya adalah apakah anak-anak ini yang tetap berangkat ke kota dan melaksanakan kegiatan disana namun dengan resiko perjalanan yang berbahaya atau kami yang akan dengan nekatnya mencoba peruntungan kami di tengah kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Kami kemudian mengambil pilhan ke dua.

 

      Tiba pada suatu hari saat kami harus mengambil materi persiapan untuk Olimpiade ini di kota. Sebelumnya kami telah dikabarkan bahwa kiriman barang dari Tim Panitia Pusat telah sampai di Kantor Pos. Maka kemudian kami memutuskan untuk berangkat hari Sabtu ketika kegiatan sekolah tidak banyak. Pagi itu cuaca memang sedang buruk. Langit cukup gelap dan sempat hujan angin pada beberapa saat sebelum kami bangun tidur. Ibu asuh kami telah mengingatkan kami sebaiknya kami tidak pergi karena cuaca sangat buruk dan kalaupun kami tetap ingin pergi sebaiknya agak siang saja sekitar jam 10. Namun kami tetap bersikerah untuk berangkat dengan taxi kapal itu karena jika kami tidak berangkat pagi maka kantor pos tersebut akan sudah tutup. Jika perjalanan 4 jam kami di darat dan laut lancar maka kemungkinan jika kami berangkat pagi sekitar pukul 7, kami akan sampai di Kota pada pukul 11 tepat sebelum kantor pos tutup. Tidak mungkin kami mengambilnya pada hari senin karena kami harus mengajar di kelas. Inilah pilihan yang sulit bagi kami. Demi sebuah tanggung jawab dan janji kami melangkah.

 

       Ketika sebelum berangkat Ibu asuh kami menyarankan kami untuk memakai pelampung yang memang sudah disiapkan oleh Yayasan tempat kami bekerja. Selama 3 bulan kami berada disini dan menyebrangi lautan ini kami tidak pernah menggunakan pelampung ini. Tidak ada alasan yang penting hingga kami harus memakainya saat menyebrangi lautan ini walaupun sebenarnya kami punya alasan utama yaitu “KAMI TIDAK BISA BERENANG”. Begitulah kami yang sedikit meremehkan kondisi daerah pesisir dan memang masih minim pengalaman. Untuk pertama kalinya kami membawa pelampung ini ke dalam kapal kecil ini untuk keselamatan kami.

 

      Baru berjalan sekitar 5 menit dari tempat kapal berangkat tiba-tiba ombak sudah mulai menggoda kapal kami. Selang 10 menit berikutnya kami digoda dengan sedikit lebih keras lagi oleh gelombang ini. Pelampung sebelumnya hanya berada di samping kami tidak kami kenakan. Begitulah percaya dirinya kami hingga tidak percaya bahwa sebaiknya kami memakai pelampung demi keselamatan. Selang 10 menit berikutnya pelampung itu semakin dekat dengan badan kami karena kami mulai memakainya. Hal ini kami lakukan karena kami baru saja digoyang oleh gelombang yang sangat besar hingga air masuk ke dalam kapal. Di dalam kapal tersebut terdapat sekitar 10 penumpang terdiri dari 5 orang wanita dan 5 orang pria termasuk kami dimana tidak satupun dari mereka menggunakan pelampung. Kapal terus bergoyang semakin kencang di atas ombak yang tingginya sekitar 2-3 meter, padahal dari jauh desaku masih terlihat sangat jelas dimana ini tandanya kami masih belum jauh untuk bisa kembali jika cuaca sangat buruk.

 

      Di menit ke 30 kami kemudian semakin ketakutan karena cuaca yang semakin buruk, angin tambah kencang dan ombak yang tak pernah surut niatnya untuk menjatuhkan kami ke laut. Sungguh kali ini aku sangat takut. Untuk pertama kalinya pelampung aku pakai sangat kencang di badanku dan ketakutan yang mendalam merasukiku. Perut mual (salahnya kami terlalu banyak sarapan tadi pagi) serasa mau muntah hampir 2 kali, keringat dingin mengucur, deg-degan yang semakin kencang dan semuanya ditemani oleh doa-doa keselamatan yang tak henti-hentinya keluar dari bibir kami. Aku sempat berpikir mengapa supir kapal ini tidak menepi saja atau bahkan berhenti sejenak di atas laut agar kapal tidak lagi digoda oleh ombak ini.  SI supir ini tetap saja nekat membawa kapalnya dengan kencangnya menghadang ombak yang menerpa kami dari kiri, kanan dan depan. Kami juga sempat diberitahu oleh beberapa penumpang bahwa di daerah kami ini adalah lautan tempat pertemuan arus sehingga gelombangnya akan sangat tinggi. Bukanya membuat tenang namun orang ini hanya membuatku panik. Sungguh pernyataan yang tidak penting disaat genting ini. Mungkin jika naik mobil kita bisa saja berhenti sejenak karena mabuk kemudian turun di jalan tapi ini di kapal dan di atas laut. Kami tidak bisa seenaknya turun ke luar kapal dan menenangkan diri. Panik dan pasrah serta tidak bisa berbuat apa-apa selama perjalanan ini.

 

       Demi sebuah bahan persiapan Olimpiade pertama kali bagi anak-anak , kami nekat berangkat menantang lautan ini. Entah bodoh, nekat atau terlalu percaya diri sehingga kami siap menghadapi segala cobaan ini. Kami merasakan ini selama 1,5 jam diatas laut yang tidak bersahabat. Aku sudah hampir muntah hingga 2 kali atau bahkan lebih saat berada di dalam kapal. Aku jera berada di kapal dalam kondisi ini. Akhirnya kami sampai di Lori (daerag tempat pelabuhan kapal ini) dengan selamat dan akupun naik ke atas jembatan tempat bersandarnya kapal dengan langsung tengkurap di atasnya. Aku tidak sanggup berjalan dan masih ketakutan. Perut mual dan kepala pusing tetap menemaniku selama perjalan darat selanjutnya sekitar 2 jam melewati jalanan yang rusak juga diantara kebun-kebun sawit. Sungguh penderitaan yang tiada akhir bagiku pada hari itu.

 

       Namun bukan kisahku yang mungkin inspiratif atau mungkin membuat haru karena demi anak-anak ini kami nekat berangkat tapi coba kaitkan kisah ini dengan keberanian para nelayan kita. Jika cuaca ekstrem seperti tadi beberapa nelayan biasanya berangkat ke laut demi mendapatkan udang karena menurut mereka pada cuaca seperti inilah banyak kumpulan udang yang berkumpul di tengah ombak besar ini. Sungguh salut terhadap keberanian mereka. Bahkan mereka hanya menggunakan kapal yang lebih kecil dari kapal yang aku gunakan. Para nelayan tambak di laut juga harus nekat berangkat ke laut untuk memastikan tambak mereka di laut tidak rusak karena ombak ini. Sebagai informasi, banyak kasus nelayan yang tidak pulang atau hilang karena pergi pada saat cuaca seperti ini. Bahkan ada yang pulang dengan berenang hingga ke rumahnya karena kapalnya kandas dihantam ombak.

 

       Suatu hal yang aku pelajari dari mereka bahwa mereka berani melakukan apapun demi sesuap nasi dan kehidupan mereka. Mungkin sebagian dari mereka jika tidak berangkat ke laut maka tidak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bayangkan jika setiap hari mereka menghadapi hal ini dan tidak pernah gentar. Maka kemudian aku bersyukur bahwa aku hanya merasakan sekali saja cuaca buruk di tengah laut dan masih bisa kembali dengan selamat. Walaupun kita berbeda tujuang perjuangannya namun lihatlah sisi lain dari para nelayan di daerah pesisir ini. Kadang kita selalu meremehkan pekerjaan mereka bahkan merasa (maaf) jijik terhadap kebersihan para nelayan ini yang notabene kulitnya hitam dan badanya berbau amis dari ikan yang mereka tangkap. Coba jika kalian jadi seperti mereka apakah kalian berani melakukan hal-hal berbahaya ini? Apakah kalian akan tetap nekat berjuang menghadang para pasukan ombak yang siap menahanmu di tengah lautan itu demi kehidupan keluarga kalian?

 

       Bagiku pengalaman kecilku tadi saat berada di atas kapal  dan bermain dengan ombak itu bukanlah hal yang besar namun setidaknya aku bisa merasakan bahwa seberat apapun cobaan yang kita hadapi, Allah selalu adil dalam memberikan yang terbaik bagi kita. Ini langkah kecilku untuk melihat orang-orang di sekitarku dengan pandangan yang berbeda dan lebih positif agar aku bisa menjadi lebih baik di kemudian hari. Desa Tanjung Aru mengajari segalanya.Aku datang kesini untuk belajar bukan mengajar. Alam inilah yang mengajarkanku untuk melihat sesuatu jangan dari sisi negatifnya saja.

 

 

The fishermen know that the sea is dangerous

and the storm terrible,

but they have never found these dangers

sufficient reasons for remaining ashore.

~Vincent Van Gogh~

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2012 in Uncategorized